Sabtu, 05 Agustus 2017

Naik puncak bareng yuk?

Bismillah.
Untuk naik sampai puncak gunung itu susah. Sampai ngos-ngosan untuk menggapainya. Jalan terjal penuh bebatuan. Kalau nggak hati-hati, ambruk sudah. Kaki pegal linu, keringat bercucuran berpacu bersama teriknya mentari. Tapi, kelalahan itu berapi-api dan muncul kembali saat seorang teman memberi semangat "Ayoooo, sedikit lagi tuhh. Masa sampai sini ajah.. Hamasah hamasah !! Kamu kuat". Hmm, emang enak kalau ke suatu tempat yang jauh ada yang nemenin apalagi ini tempatnya gunung dengan segala kerumitannya, senang kalau udah sampai puncak mah serasa terbayar sudah.
Sama halnya dengan kehidupan setelah di dunia, yakni akhirat dimana puncak kenikmatan tertingginya adalah Ridho Allah dan jannah-Nya. Untuk menggapinya tentu nggak mudah, banyak aral melintang, kerikil tajam menghadang. Tapi kalau sabar mendaki dan semua sudah terlewati, terbayar sudah serta masyaa Allah sangat indah. Sama halnya dengan mendaki di dunia, mendaki menuju akhirat pun kalau nggak ada temen rasanya susah dan sunyi sekali. Nggak ada yang  nyemangatin k dan ngingetin kalau kita futur dan kalau-kalau puncak itu udah deket. Kesimpulannya, kehidupan menggapai akhirat ibarat mendaki sebuah puncak gunung yang terjal dan berliku serta kalau mau cepet nyampe perbanyaklah teman yang shalih agar kamu senantiasa bersemangat menggapai puncak itu, puncak di atas puncak yakni Ridho Allah. Kalau sabar menggapainya sekuat aral melintang pun pasti berlalu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar